Doa

Image
Tiga tahun sudah berlalu sejak malam Zulaikha menangis di atas sejadah itu. Malam yang mengubah segalanya — dari putus asa, menjadi yakin bahawa doa, walau selemah mana sekalipun, tetap punya sayap menuju langit. Kini, Zulaikha bukan lagi gadis yang takut dengan masa depan. Dia bekerja di sebuah perpustakaan kecil — tempat yang dulu hanya jadi impian waktu belajar. Hujung minggu, dia jadi sukarelawan ajar anak-anak kampung membaca. Tenang. Hidupnya kini penuh makna, walau sederhana. Tapi ada satu doa lain yang masih belum termakbul sepenuhnya. Doa yang dia ulang setiap malam selepas witir. “Ya Allah, kalau dia memang bukan yang terbaik untukku, jauhkanlah. Tapi kalau dia memang untukku, kuatkanlah aku menunggu.” Lelaki itu — Faris — bukan asing. Mereka pernah satu tempat kerja dulu. Faris sopan, tapi jarang berbicara banyak. Namun setiap kali Zulaikha rasa lemah, entah bagaimana, mesej ringkas daripada Faris selalu muncul — “Sabar, Allah tengah susun yang baik.” Mereka tak pernah janji...

Lukisan Darisha





🎨🎨🎨


Hujan gerimis membasahi jendela kecil di ruang lukisan Darisha. Dia duduk di depan kanvas kosong dengan paletnya yang berisi warna-warna yang pucat. Darisha adalah seorang pelukis yang terkenal dengan lukisannya yang sarat dengan kesedihan. Lukisan-lukisannya selalu mencerminkan kegelapan di dalam hatinya yang terluka.

Sejak kematian suaminya, Ariz, dalam sebuah kemalangan kenderaan dua tahun yang lalu, Darisha telah hidup dalam kesedihan yang mendalam. Lukisan-lukisannya adalah satu-satunya cara untuk dia bisa mengungkapkan perasaannya yang terlalu sulit untuk diucapkan dengan lisan.

Hari itu, saat dia cuba untuk mengekspresikan perasaannya yang paling kelam dari lubuk hatinya dalam lukisan terbarunya, Darisha merasa seolah-olah ada sesuatu yang... hilang dari hidupnya. Cinta yang dulu begitu indah bersama Ariz seakan-akan telah hilang meninggalkannya.

Suatu hari, ketika dia sedang berbelanja di pasar seni lokal, mata Darisha tertarik pada seorang lelaki  yang berdiri di hadapan lukisannya yang paling gelap dan melankolik. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang terlihat seperti Darisha sendiri, berdiri di tepi sebuah danau gelap dengan hujan yang turun deras.

"Bagaimana kau bisa menciptakan sesuatu yang begitu indah namun dalam masa yang sama menyedihkan?" tanya lelaki itu pada Darisha dengan suara yang hangat.

Darisha terkejut dengan pertanyaan yang tidak semena-mena itu. Dia merasa tidak ada yang pernah benar-benar memahami seninya seperti lelaki ini.

"Saya, Darisha," kata dia perlahan. Salam perkenalan mula dihulurkan.

"Farid," jawab lelaki itu sambil tersenyum. "Saya seniman juga, meskipun saya cenderung lebih ke arah seni fotografi." Bilang Farid.

Mereka mulai berbicara tentang seni dan kehidupan. Darisha merasa nyaman bila bersama Farid, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan dalam waktu yang sangat lama. Mereka sering bertemu di galeri seni lokal dan berkongsi pandangan mereka tentang dunia seni.

Waktu berlalu, Darisha merasa hatinya mulai pulih. Farid adalah lelaki yang membuatnya tersenyum kembali. Dia melihat keindahan dalam lukisan-lukisan Darisha, bahkan yang paling gelap sekalipun. Dia membawanya ke tempat-tempat indah, seperti memanjat pergunungan yang indah dan pantai yang tenang.

Seiring berjalannya waktu, perasaan antara Darisha dan Farid berkembang menjadi sebuah perasaa cinta. Mereka mengejar impian seni mereka bersama-sama, memberi inspirasi satu sama lain, dan mendukung dalam semua perkara.

Suatu malam, di tepi danau gelap yang sangat mirip dengan lukisan Darisha, Farid berlutut di depannya dengan cincin di tangannya. "Darisha, saya ingin kita terus bersama, melukis dunia kita sendiri dengan warna-warna yang penuh cinta. Mahukah awak menikah dengan saya?"


Mereka menikah di bawah langit yang cerah, tepat di tepi danau yang telah menjadi saksi bisu atas kedalaman kesedihan Darisha dan kini menjadi saksi atas kebahagiaan baru yang dia temukan dalam cinta bersama Farid.

Dan sejak saat itu, warna-warna ceria mulai muncul dalam lukisan-lukisan Darisha. Lukisannya tidak lagi hanya tentang kesedihan, tetapi sudah bertukar menjadi tentang kebahagiaan, cinta, dan keindahan yang ditemukan dalam cinta mereka yang mendalam.

Akhirnya, Darisha mula menyedari bahawa meskipun pernah merasakan kesedihan yang mendalam, cinta yang baru dapat membawanya ke tempat-tempat yang indah dan memberinya inspirasi untuk menciptakan karya seni yang penuh dengan makna.










#CeritaPendek

#CerpenMelayu

#CeritaRakyat #SasteraMelayu #FiksyenMelayu #CerpenMalaysia #KaryaSastera #PenulisanKreatif #KisahPendek #KomunitiPenulis #KisahMelayu #BlogCerita #CeritaOnline

Comments

Popular posts from this blog

Ceritera Aku

Meowcho X Comeowl

Cognitive fatigue