Doa

Image
Tiga tahun sudah berlalu sejak malam Zulaikha menangis di atas sejadah itu. Malam yang mengubah segalanya — dari putus asa, menjadi yakin bahawa doa, walau selemah mana sekalipun, tetap punya sayap menuju langit. Kini, Zulaikha bukan lagi gadis yang takut dengan masa depan. Dia bekerja di sebuah perpustakaan kecil — tempat yang dulu hanya jadi impian waktu belajar. Hujung minggu, dia jadi sukarelawan ajar anak-anak kampung membaca. Tenang. Hidupnya kini penuh makna, walau sederhana. Tapi ada satu doa lain yang masih belum termakbul sepenuhnya. Doa yang dia ulang setiap malam selepas witir. “Ya Allah, kalau dia memang bukan yang terbaik untukku, jauhkanlah. Tapi kalau dia memang untukku, kuatkanlah aku menunggu.” Lelaki itu — Faris — bukan asing. Mereka pernah satu tempat kerja dulu. Faris sopan, tapi jarang berbicara banyak. Namun setiap kali Zulaikha rasa lemah, entah bagaimana, mesej ringkas daripada Faris selalu muncul — “Sabar, Allah tengah susun yang baik.” Mereka tak pernah janji...

DANIA

 

🚪🚪🚪


   Dania, seorang mahasiswi universiti yang pendiam. Orang kata, Introvert. Di dalam kelas, dia selalu duduk di belakang, berusaha untuk tidak menarik perhatian sesiapa pun. Dia salah seorang siswi yang tersangatlah jarang berbicara, dan teman-temannya di kampus sering menganggapnya sebagai perempuan terlampau pemalu yang tidak memiliki banyak teman.

Namun, apa yang tidak diketahui banyak orang adalah bahawa Dania memiliki sisi lain yang sangat berbeza dari sikap pendiamnya yang dikenali ramai. Di luar kampus, Dania adalah seorang penembak yang hebat. Dia menghabiskan banyak waktu di luar kampus untuk berlatih menembak di lapangan tembak tempatan.

Kemampuan menembak Dania bukan hanya biasa-biasa saja. Dia adalah salah seorang penembak terbaik di negara ini dan telah memenangkan banyak pertandingan menembak. Tapi dia tidak pernah berbicara tentang keahliannya di kampus. Baginya, menembak adalah cara untuk melepaskan tekanan dan merasa bebas.

Dian adalah salah seorang lelaki sekelasnya yang menyedari kehebatan menembak Dania. Dia mengetahui hal itu ketika dia melihat Dania di lapangan tembak saat Dania tidak sengaja mengganti baju di keretanya. Dian terkejut melihat Dania mengenakan seragam menembak lengkap dengan senjata yang bukan kaleng-kaleng pada penglihatannya.

"Hei, Dania! Aku tidak pernah tahu pun kau ni sebenarnya adalah seorang penembak?" Soal Dian dalam masa yang sama terasa kagum yang amat di dalam dadanya.

 "Ya. Aku suka menembak. Hobi." Jawab Dania sepatah. Malas nak layan orang kata

 "Aku tidak tahu pula yang kau ni hebat dalam menembak. Apa kau pernah masuk pertandingan?"

Dania hanya mengangkat bahu. Menandakan dia tidak mahu menceritakan lebih.

Dian tersenyum lantas, “kau ni sebenarnya menariklah, Dania. Bukan je pandai di dalam kelas, tetapi juga hebat menembak."

Dania tersenyum malu-malu, tidak tahu harus merespons dengan apa lagi. Dian,boleh dikategorikan sebagai seorang lelaki tampan yang terkenal di kampus. Tanpa di duga, Diana seakan tertarik padanya dan dia merasa sungguh bingung.

Masa pun berlalu, Dian mulai selalu mengajak Dania untuk berlatih menembak bersama. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama di lapangan tembak, dan Dania merasa semakin nyaman dengan Dian. Mereka bahkan mulai berkencan, dan Dania merasa seperti dia akhirnya menemukan seseorang yang benar-benar menghargainya.

Namun, ketika hubungan mereka semakin mendalam, Dian mulai merasa cemburu dengan kehebatan menembak Dania. Dia merasa terancam oleh kemampuan Dania yang luar biasa, dan perasaan cemburunya mulai menggugah hubungan mereka.

Suatu malam, ketika mereka sedang berbicara tentang rencana masa depan mereka bersama, Dian mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan.

 "Dania, aku tidak tahu apakah aku bisa bersama dengan seseorang yang lebih baik dari aku dalam segala hal, termasuk menembak."

 "Dian, itu tidak adil. Saya tak ada pun nak buat awak rasa macam itu." Dania tersinggung.

"Aku tahu, tapi aku merasa seperti aku selalu berada di bawah bayanganmu. Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, tapi rasanya seperti itu tidak akan pernah terjadi."

Dania merasa hancur. Dia tidak pernah bermaksud membuat Dian merasa seperti itu, dan dia sangat mencintai Dian. Tapi Dian memutuskan hubungan mereka, meninggalkan Dania dengan hati yang terluka.

Beberapa bulan kemudian, Dian masih berlatih menembak dengan tekun, tetapi tidak lagi dengan semangat seperti dulu. Dia merindukan Dania dan merasa kesepian tanpa dia. Namun, dia tahu bahawa dia harus terus maju dengan hidupnya.

Suatu hari, Dian mendengar berita tragis bahawa Dania telah terlibat dalam kemalangan jalanraya dan meninggal di tempat kejadian. Hatinya hancur-sehancurnya dan dia merasa amat bersedih atas kehilangan Dania yang pernah dicintainya.

Dengan hati yang berat, Dian paksakan dirinya juga pergi ke pemakaman Dania untuk memberikan penghormatan terakhir. Dia merasa sangat menyesal tidak pernah memberi tahu Dania betapa pentingnya dia dalam hidupnya.

Di pemakaman itu, Dian menatap nisan Dania dengan berjejeran air mata di tubirnya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahawa dia akan terus menghormati dan mengingat Dania. Dan dia berjanji bahawa dia tidak akan pernah lagi membiarkan perasaan cemburunya merosakkan hubungan atau merugikan orang yang dicintainya.

Pengalaman tragis itu mengajarkan Dian tentang pentingnya menghargai orang yang kita cintai saat mereka masih ada. Dia merasa bahawa dia telah kehilangan cinta sejatinya kerana cemburunya yang berlebihan, dan itu adalah pelajaran yang sangat mahal yang akan dia ingat seumur hidupnya.






#CeritaPendek

#CerpenMelayu

#CeritaRakyat #SasteraMelayu #FiksyenMelayu #CerpenMalaysia #KaryaSastera #PenulisanKreatif #KisahPendek #KomunitiPenulis #KisahMelayu #BlogCerita #CeritaOnline


Comments

Popular posts from this blog

Ceritera Aku

Meowcho X Comeowl

Cognitive fatigue